Aspek-aspek dan Dimensi Pola Asuh

Aspek-aspek Pola Asuh

Menurut Baumrind (Berk, 1994) membedakan pola asuh menjadi :

a. Authoritarian

Orang tua berlaku sangat ketat dan mengontrol anak dengan mengajarkan standar dan tingkah laku. Pola asuh ini mengakibatkan kurangnya hubungan yang hangat dan komunikatif dalam keluarga. Anak dari pola asuh ini cenderung moody, murung, ketakutan, sedih, menggambarkan kecemasan dan rasa tidak aman dalam berhubungan dengan lingkungannya, menunjukkan kecenderungan bertindak keras saat tertekan dan memiliki harga diri yang rendah.

b. Authoritative

Orang tua memiliki batasan dan harapan yang jelas terhadap tingkah laku anak, mereka berusaha untuk menyediakan paduan dengan menggunakan alasan dan aturan dengan reward dan punishment yang berhubungan dengan tingkah laku anak secara jelas. Orang tua sangat menyadari tanggung jawab mereka sebagai figur yang otoritas, tetapi mereka juga tanggap terhadap kebutuhan dan kemampuan anak. Pola asuh ini dapat menjadikan sebuah keluarga hangat, penuh penerimaan, mau saling mendengar, peka terhadap kebutuhan anak, mendorong anak untuk berperan serta dalam mengambil keputusan di dalam keluarga.Anak dengan pola asuh ini berkompeten secara sosial, enerjik, bersahabat, ceria, memiliki keingintahuan yang besar, dapat mengontrol diri, memiliki harga diri yang tinggi, serta memiliki prestasi yang tinggi.

c. Permissive

Orang tua cenderung mendorong anak untuk bersikap otonomi, mendidik anak berdasarkan logika dan memberi kebebasan pada anak untuk menentukan tingkah laku dan kegiatannya. Anak dengan pola asuh ini cenderung tidak dapat mengontrol diri, tidak mau patuh, tidak terlibat dengan aktivitas di lingkungan sekitarnya.


Dimensi Pola Asuh

Ada dua dimensi yang menjadi dasar dari kecenderungan jenis pola asuh orang tua menurut Baumrin (Kail, 2000), yaitu:

a. Responsifitas

Dimensi ini berkenaan dengan sikap orang tua yang penuh kasih sayang, memahami dan berorientasi pada kebutuhan anak. Sikap hangat yang ditunjukkan orang tua pada anak sangat penting dalam proses sosialisasi antara orang tua dan anak. Sering terjadi diskusi pada keluarga yang memiliki orang tua responsif, selain itu juga sering terjadi proses memberi dan menerima secara verbal diantara kedua belah pihak.

b. Tuntutan

Untuk mengarahkan perkembangan sosial anak secara positif, kasih sayang dari orang tua belumlah cukup. Kontrol diri dari orang tua dibutuhkan untuk mengembangkan anak agar menjadi individu yang kompeten baik secara intelektual maupun sosial. Conger dan Maccoby (Shochib, 1998) dimensi ini berkenaan dengan tingkah laku orang tua yang melibatkan batasan dan pelaksanaan tuntutan yang tegas dan konsisten, menuntut kepatuhan, membuat harapan-harapan yang tinggi untuk anak, membatasi anak untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Ada orang tua yang membuat standar yang tinggi untuk anak-anaknya dan mereka menuntut agar standar tersebut dipenuhi.