Social Icons

Problematika Pendidikan Islam kontemporer

     Problem yang dihadapi pendidikan Islam kontemporer adalah cukup banyak, jika dicermati secara jeli dan teliti. Tetapi secara umum dan mendasar ada lima hal yang akan penulis ungkapkan untuk mewakili dari berbagai problem yang mengkontaminasi atmosfir pendidikan Islam dewasa ini. Makalah ini berusaha menyorot problem-problem utama yang dihadapi pendiddikan Islam kontemporer yang antara lain meliputi :
1. Dikotomi
Masalah besar yang dihadapi pendidikan Islam adalah dikotomi dalam beberapa aspek yaitu antara ilmu agama dan ilmu umum, wahyu dan akal. Munculnya problem dikotomi dengan segala perdebatannya telah berlangsung sejak lama. Penyebabnya antara lain adalah :
  • Peradaban umat Islam yang tidak bias menyajikan Islam secra kaffah, yang mengakibatkan lahirnya pendidikan umat Islam yang sekularistik, rasionalistik dan materialistuik. Ini disebabkan oleh :pertama, kegagalan dalam merumuskan tauhid dan cara bertauhid, kedua, kegagalan butir tersebut menyebabkan lahirnya syirik yang berakibat adanya dikotomi"fikroh Islami". Dikhotomi fikroh Islami inilah yang menimbulkan dikotomi proses pencapaian tujuan pendidikannya.
  • Penyabab yang lain adalah diterimanya budaya Barat secara total bersama dengan adopsi ilmu pengetahuan dan teknologinya. Mereka yang menganut faham tersebut berkeyakinan yang penting adalah kemajuan bukan agama dan oleh karena itu kajian budaya dibatasi dibidangnya.
     Dikotomi system pendidikan Islam juga sangat merugikan pendidikan Islam itu sendiri. Beberapa permasalahan yang menyelimuti dunia pendidikan Islam sebagai akibat munculnya dualisme pendidikan tersebut adalah : pertama, munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam, dengan adanya ambivalensi orientasi ini menyebabkan confuse bagi umat Islam.
Sementara ini, dengan pendidikan pesantren masih dirasakan adanya "kekurangan" dalam program pendidikan yang diterapkan. Misalnya dalam bidng mu'amalat (ibadah dalam arti yang luas) yang mencakup penguasaan berbagai disiplin ilmu dan keterapilan, terdapat anggapan bahwa bahwa seolah semua itu bukan merupakan bidang garapan Islam, melainkan bidang garapan khusus system pendidikan sekuler.
      System madrasah, apalagi sekolah dan perguruan tinggi Islam telah membagi porsi materi pendidikan Islam dan materi pendidikan umum dalam persentasi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak lagi berorientasi sepenuhnya pada tujuan pendidikan Islam. Namun ironisnya, juga tidak mampu mencapai tujuan pendidikan Barat. Pada akhirnya, pendidikan Islam disekolah dan perguruan tinggi (terutama umum) diketahui sebagai pelengkap yang menempel bagi pencapaian orientasi pendidikan sekuler.
      Kedua, munculnya kesenjangan antar system pendidikan Islam dan ajaran Islam yang masih ambivalen mencerminkan pandangan dikhotomis yang memisahkan ilmu-ilmu umum dengan ilmu-ilmu agama. Pandangan ini jelas bertentangan dengan konsep ajaran Islam sendiri. Islam memiliki ajaran integralistik, Islam mengajarkan bahwa urusan dunia tidak terpisah dengan urusan akhirat, atau dengan kata lain Islam mengakui adanya ajaran kesatuan dunia dan akhirat. Implikasinya, bila merujuk pada ajaran Islam, ilmu-ilmu umum seharusnya difahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu-ilmu agama. Oleh karenanya bila faham dikhotomis dan ambivalen dipertahankan, output pendidikannya tentu jauh dari cita-cita pendidikan Islam itu sendiri.
      Ketiga, disintegrasi system pendidikan Islam hingga saat ini boleh dikatakan bahwa dalam system pendidikan kurang terjadi usaha-usaha perpaduan (integralisasi). Keadaan ini diperburuk oleh ketidak pastian hubungan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Bahkan hal itu juga ditunjang oleh kesenjangan wawasan guru agama dan kebutuhan anak didik, terutama disekolah umum.
     Pengaruh-pengaruh negative yang diakibatkan oleh system dikotomik pendidikan tersebut sangat merugikan pendidikan Islam, kecendrungan untuk terpukau pada system pendidikan Barat sebagai tolok ukur pendidikan nasional diakui atau tidak telah mempengaruhi system pendidikan Islam. Sehingga system oendidikan Islam telah terpecah dalam tiga bentuk; system pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam yang masing-masing memiliki orientasi yang tidak saling memadu. System pesantren berorientasi pada tujuan institusionalnya, antara lain terciptanya ahli ilmu agama (ulama/kyai). System madrasah bergeser orientasi kepenguasaan ilmu-ilmu umum sebagai tujuan sekunder, akhirnya berkembang menjadi sekolah Isla atau sekolah tinggi Islam yang tujuan institusianal primernya adalah pengusaan ilmu-ilmu umum, sedangkan ilmu-ilmu agama menjadi tujuan sekundernya.

2. too general knowledge
     Kelemahan dunia pendidikan Islam berikutnya adalah sifat ilmu yang pengetahuan yang masih terlalu general dan kurang memperhatikan kepada upaya penyelesaian masalah (problem solving). Prosuk-produk yang dihasilkan cendrung kurang membumi dan kurang selaras dengan dinamika masyarakatnya. Syed al-Attas menyatakan bahwa kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan, mendefinisikan, menganalisis dan selanjutnya mencari jalan keluar/pemecahan masalah tersebut merupakan karakter dan sesuatu yang mendasari kualitas sebuah intelektual. Ia menambahkan ciri terpenting yang membedakan dengan non-intelektual adalah tidak adanya kemauan untuk berfikir dan ketidakmampuan untuk melihat konsekuensinya.
     Dibeberapa Negara muslim, khususnya bekas jajahan Prancis fakultas seni dan hokum menjadi fakultas yang paling penting, fakulte des letters dn fakulte des droits mendominasi seantero kampus. Para lulusan dari fakultas-fakultas tersebut mendapat ajaran ilmu yang bersifat general, yang satu terlalu general dengan fungsi-fungsi praktis dan yang lainnya dengan hafalan, tanpa memberikan perhatian terhdap usaha pemecahan masalah (problem solving).
     Sedangkan hal yang sangat perlu untuk ditegaskan adalah bahwa konsep ilmu dalam tradisi Islam sangat berbeda dengan tradisi Barat. Konsep ilmu Barat menekankan nilai penting ontology dan epistemologinya sebagai pijakan, sedangkan konsep ilmu dalam Islam berangkat dari aksiologinya. Perbedaan itu berkenaan dengan masalah teori sebagai tujuan dan metodologinya, kaitannya dengan pengembangan ilmu, pendidikan Islam harus bisa membentuk manusia yang berkepribadian mulia ang tda hanya tahu dan bias berperan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga harus menghiasinya dengan moral yang baik dan tinggi, dengan demikian system pendidikan Islam terkait erat dengan nilai-nilai kebaikan yang menjadi tujuannya. 

3. memorisasi
     Kemerosotan secara gradual dari standar-standar akademis yang berlangsung selama berabad-abad tentunya terletak pada kenyataan bahwa jumlah buku-buku yang tertera dalam kurikulum sangat sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk belajar juga terlalu singkat bagi siswa-siswa untuk dapat menguasai materi-materi yang seringkali sulit untuk dimengerti, tentang aspek-aspek tinggi ilmu keagamaan pada usia yang relatif muda dan belum matang. Hal ini pada gilirannya menjadikan belajar lebih banyak bersifat studi tekstual daripada pemahaman pelajaran yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan dorongan untuk belajar dengan system hafalan (memorizing) daripada pemahaman yang sebenarnya. 

4. lack of spirit of inquiry
     Persoalan besar lainnya yang menjadi factor penghambat kemajuan dunia pendidikan Islam adalah rendahnya semangat untuk melakukan penelitian. Syed al-Attas merujuk pada pernyataan al-Afghani menganggap rendahnya "the Intelectual Spirit" menjadi d\salah satu factor terpenting yang menyebabkan kemunduran Islam. Hal tersebut masih diperparah dengan semangat untuk meneliti, rasa cinta untuk mencari ilmu, dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan serta ilmu rasional tidak berkembang luas dinegara-negara berkembang.
Dalam masyarakat muslim dimana lembaga-lembaga perguruan tinggi akar kuat terhadap cara-cara belajar hafalan, isi (content) dari sains-sains positif yang diadopsi dari Eropa tetap diajarkan dengan model yang sama (hafalan). Ayat-ayat al-Qur'an dipelajari dengan hati sebab ayat-ayat tersebut adalah sempurna dan tidak untuk diselidiki apa yang terkandung didalamnya. 

5. certificate Oriented
     Hampir diseluruh universitas Islam adalah para mahasiswa yang telah menyelesaikan studi dengan metode rote-learning dibekali dengan sebuah sertifikat/ijazah tetapi bukan dengan "kualifikasi substansial" yang dapat diterapkan atau dimnfaatkan dalam proses pembangunan. Belajar oleh kebanyakan orang dianggap hanyalah alas an muhan kebutuhan perut (a bread winning ticket) atau tiket untuk masuk keposisi-posisi yang lebih baik.
    Pola yang dikembangkan pada masa-msa awal Islam adalah thalabul ilmi telah memberikan semangat dikalangan muslim untuk gigih mencari ilmu, melakukan perjalanan jauh penuh resiko guna mencari kebenaran suatu ilmu. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa karakteristik para ulama muslim masa-masa awal didalam mencari ilmu adalah knowledge oriented, sehingga tidak mengherankan jika pada masa-masa itu banyak lahir tokoh-tokoh yang besar yang memberikan kontribusi berharga.
      Sementara, jika dibandingkan dengan pola yang ada pada sekarang dalam mencari ilmu menunjukkan kecendrungan pergeseran dari knowledge oriented menuju certificate oriented. Mencari ilmu hanya merupakan sebuah proses untuk mendapatkan sertifikat dan ijazah saja, sedangkan semangat dan kualitas keilmuan menempati prioritas berikutnya. Jual beli gelar juga menjadi bahan perbincangan yang cukup serius dikalangan akademisi yang terjadi di Indonesia yang semkin menambah keterpurukan pendidikan Nasinal di mata dunia. Download

Thanks

Tidak ada komentar:

Followers