Social Icons

Pertumbuhan & Perkembangan Pendidikan Islam Pra Kemerdekaan

a. Masa Penjajahan Belanda
       Penaklukan bangsa barat atas dunia timur dimulai dengan jalan perdagangan, kemudian dengan kekuatan militer. Selama zaman penjajahan barat itu berjalanlah proses westernisasi Indonesia. Kedatangan bangsa barat memang telah membawa kemajuan teknologi. Tetapi tujuannya adalah untuk meningkatjkan hasil penjajahannya, bukan untuk kemakmuran bangsa yang dijajah. Mereka memperkenalkan system dan metode baru tetapi sekedar untuk menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan mereka dengan upah yang murah dibandingkan dengan jika mereka harus mendatangkan tenaga dari barat.
Westernisasi adalah pembaharuan pendidikan dari kristenisasi dari kristiani yakni untuk kepentingan barat dan nasrani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajah barat di Indonesia selama kurang lebih 3,5 abad. Ketika terjadi perang antara Rusia dengan jepang pada tahun 1904-1905 M. raja jerman mengirim pesan kepada raja rusia yang berbunyi: “melawan jepang adalah panggilan suci untuk melindungi salib dan kebudayaan Kristen eropa”.  
     Disamping itu sebagai bangsa penjajah pada umumnya mereka menganut pikiran Machiavelli yang menyatakan antara lain:
  • Agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah
  • Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukkan rakyat
  • Setiap aliran agama yang di anggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibawa untuk memecah belah dan agar mereka berbuat untuk mencari bantuan kepada pemerintah
  • Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan
  • Tujuan dapat menghalalkan segala cara.
     Pemerintahan belandaa mulai menjajah indonesia pada tahun 1619 M. yaitu ketika jan pieterzoon coen menduduki jakarta dan di lawan oleh sultan agung mataram yang bergelar sultan abdurrahman khalifatullah syaidin panotogomo, Setelah belanda dapat mengatasi pemberontakan-pemberontakan dari tokoh-tokoh politik dan agama., maka sejarah kolonialisme diindonesia mengalami fase yang baru, yaitu belanda secara pollitik sudah dapat menguasai Indonesia. Sejak zaman VOC kedatangan mereka di Indonesia sudah bermotif ekonomi, politik dan agama. Gubernur jendral van den capellen pada tahun 1819 M mengambil inisiatif merencanakan berdirinya sekolah dasar bagi penduduk pribumi agar dapat membantu pemerintah belanda. 
       Dalam surat edarannya kepada para bupati sebagai berikut: “di anggap penting untuk secepat mungkin mengadaka peraturan pemerintah menjamin meratanya kemampuan membaca dan menulis bagi pendududk pribumi agar mereka lebih mudah untuk dapat menaati undang-undang dan hukum Negara”. Dengan demikian jelas terlihat, meskipun belanda mendirikan lembaga pendidikan untuk kalangan pribumi tetapi semua adalah demi kepentingan mereka semata, pendidikan islam yang ada di pondok pesantren, masjid dan musholla atau yang lainnya di anggap tidak membantu pemerintahan belanda, politik yang di jalankan pemerintahan belanda terhadap rakyat indonesia yang matoritas beragama islam sebenarnya di dasari oleh rasa ketakutan, panggilan agama yaitu kristen dan rasa kolonialisme.
        Pemerintahan kolonial belanda mendirikan sekolah-sekolah modern menurut sistem persekolahan di barat, sedikit banyak mempengaruhi sistem pendidikan islam di indonesia yaitu pesantren. Padahal di ketahui bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal di indonesia sebelum adanya kolonial belanda, justru sangat berbeda dalam sistem dan pengelolaan dengan dekolah yang di kenalkan oleh belanda. Undang-undang hindia belanda mebagi jenis penduduk menjadai tiga golongan, yakni : eropa, timur asing dan bumiputra, sehingga didirikan pula tiga jenis sekolah rendah bagi anak-anak berdasarkan tiga jenis penduduk tersebut, yakni ;
  • ELS (europese lagere school), untuk anak-anak eropa dan tionghoa, dan indonesia yang menurut undang-undang haknya di samakan dengan bangsa eropa
  • HCS (holland chinese school), untuk golongan tionghoa
  • HIS (holland inlandse school), untuk rakyat golongan pribumi atau bumiputra golongan atas, selain itu Sekolah desa dan sekolah sambungan dari kalangan bawahan. 
    Pemerintahan belanda membeda-bedakan sekolah seperti untuk mempermudah mengindentifikasi kegiatan pengajaran demi semata-mata kepentingan misinya di indonesia
Pada tahun 1882 M pemerintah belanda membentuk suatau badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan islam yang disebut Priesterraden. Atas nasihat dari badan inilah maka pada tahun 1905 M pemerintah mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran atau pengajian harus minta izin lebih dahulu. Pada tahun 1925 M pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi terhadap pendidikan agama islam yaitu bahwa tidak semua orang boleh memberikan pelajaran mengaji terkecuali bila telah mendapat semacam rekomendasi dari pemerintahn belanda. Peraturan ini setelah munculnya gerakan nasionalisme islamisme pada tahun 1928 M berupa sumpah pemuda.
     Dan pada tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya berupa wewenang untuk memberantas dan menutup madrasah atau sekolah yang tidak ada izin atau tidak memberikan pelajaran yang tidak di sukai oleh pemerintahan belanda yang disebut ordonasi sekolah luar atau wilde school ordonantie. Selain dari itu pemerintahan belanda juga menempuh uasaha yang mematikan kegiatan-kegiatan orang islam, seperti dengan mempelajari ikhwal pribumi dan agama islam yamg merupakan ilmu khusus yang di kenaal dengan indologi yang di perdalam di negeri belanda berusaha mencari kelemahan islam untuk menghadapi umat islam indonesia dengan mengutus prof. dr. christian snouck hurgronje sarjana sastra sempat belajar tentang islam di universitas laiden dan strasbourg kemudian melanjutkan studinya ke mekkah selam enam bulan dan namanya di ganti dengan abdul gaffar, setelah kembali dari mekkah ia memimpin kantor van inlandsch en arabische zaken di keluarkannya kebijaksanaan terhadap islam di indonesia berupa : pertama agar belanda netral terhadap agama yakni tidak campur tangan dan tidak memihak kepada salah satu agama yang ada tetapi tampaknya hal ini hanya bersifat teori belaka, faktanya tidaklah demikian. kedua pemerintahan belanda di harapkan dapat membendung masuknya panislamisme yang sedang berkembang di timur tengah, dengan cara menghalangi dengan masuknya buku-buku atau brosur lain kewilayah indonesia dan mengawasi kontak langsung dan tidak langsung tokoh-tokoh islam di indonesia dengan tokoh luar. Bila di lihat dari berbagai kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintahn belanda yang demikian ketatnya namun kenyataannya berbicara lain, masyarakat islam pada waktu itu bagaikan air hujan yang sulit di bendung, mengenai kondisi pendidikan islam itu sendiri tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya
        Dengan adanya peraturan pemerintan yang sangat ketat tehadap pendidikan agislam inilah yang menjadikan jiwa islam tetap terpelihara dengan baik. Para ulama dan kyai bersikap non kooperatif dengan belanda. Mereka menyingkir dari tempat yang dekat dengan belanda. Mereka mengharamkan kebudayaan yang dibawa oleh belanda dengan berpegang kepada hadist nabi Muhammad SAW yang artinya: “ barangsiapa yang menyerupai suatu golongan maka ia termasuk golongan tersebut”. Mereka tetap berpegang kepada ayat al-qur’an surat al-madinah ayat 51 yang artinya: hai orang-orang yang beriman, janganlah orang yahudi dan nasrani engakau angkat sebagai pemimpinmu”. Akhirnya pada tanggal 26-27 desember 1932 M dewan pendidikan dari permi bergabung dengan kaum pelajar dan memutuskan untuk menolak ordonansi tersebut, selain itu juga di minang kabau juga melakukan penolakan dan penggagalan terhadap ordonansi ini dengan sebuah panitia khusus. Dengan banyak mendapat perlawanan dari berbagai pihak indonesia secara tegas dan pasti, maka pada bulan februari 1933 belanda menarik kembali ordonasi tersebut dan menggantinya dengan sebuah keputusan yang lunak dalam memnberikan pelajaran. Dengan banyaknya peraturan-peraturan yang di keluarkan oleh pemerintahan belanda untuk menghambat dan menghalangi perkembangan dan pembaharuan pendidikan islam di indonesia namun kenyataannya berbicara lain, perkembangan pendidikan islam di indonesia berjalan sebagaimana mestinya

b. Masa Penjajahan Jepang
       Jepang menjajah Indonesia setelah mengusir pemerintahan hindia belanda dalam perang dunia ke II. Mereka menguasai Indonesia pada tahun 1942, dengan membawa semboyan: asia timur raya untuk asia dan semboyan asia baru.
       Pada mulanya pemerintah jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan islam, yang merupakan suatu siasat untuk kepentingan perang dunia ke II. untuk mendekati umat islam Indonesia mereka menempuh kebijaksanaan antara lain:
  1. Kantor urusan agam pada zaman belanda disebut kantoor voor islamistische saken yang dipimpin oleh orang-orang orientalisten belanda, diubah oleh jepang menjadi kantor sumubi yang dipimpin oleh ulama islam seniri yaitu K.H Hasyim Asyari dari jombang dan daerah-daerah dibentuk sumuka
  2. Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
  3. Sekolah negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
  4. Disamping itu pemerintah jepang mngizinkan pembentukan barisan hisbullah untuk memberikan latihan dasr kemiliteran bagi pemuda islam.
  5. Pemerintah jepang mengizinkan berdirinya sekolah tinggi islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H wahid hasyim, kahar muzakir dan bung hatta.
  6. Para ulama islam bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan pembela tanah air. Tokoh-tokoh santri dan pemuda islam ikut dalam kader militer itu.
  7. Umat islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut: majelis islam A’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan.
      Maksud dari pemerintah jepang adalah supaya kekuatan umat islam dan nasinalisme dapat dibina untuk kepentingan perang asia timur raya yang dipimpin oleh jepang.
Pemerintahan jepang tidak begitu ketatnya terhadap pendidikan islam di indonesias, kesetaraan pendidikan penduduk pribumi, sama halnya dengan penduduk atau penguasa, bahkan jepang banyak mengajarkan ilmu-ilmu bela diri kepada pemuda indonesia. Pada masa penjajahan jepang banyak berdirinya lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran serta pendirian tempat-tempat lembaga- lembaga pendidikan dapat di kembangkan dan anak-anak diboleh bolehkan untuk belajar agama dan mengaji. Download

ThankS

Tidak ada komentar:

Followers