Social Icons

Akar sejarah Kecerdasan Emosi

Ketika para ahli psikologi mulai menulis dan berpikir tentang kecerdasan, mereka berfokus pada aspek kognitif, seperti ingatan dan penyelesaian problema. Tetapi ada beberapa peneliti yang beranggapan bahwa ada aspek-aspek non kognitif yang juga penting. Misalnya David Wechsler mendefinisikan kecerdasan sebagai kumpulan atau kapasitas global individu untuk bertindak dengan tujuan tertentu, untuk berpikir secara rasional dan mengelola lingkungannya secara efektif.
Pada awal tahun 1940 ia menunjukkan elemen "non-intellective" sama baiknya dengan elemen "intellective", maksudnya adalah faktor-faktor afektif, personal dan sosial. Pada awal tahun 1934 Weschler mengusulkan kemampuan non intellective sebagai hal yang mendasar untuk memprediksi kemampuan seseorang untuk mencapai kesuksesan hidup. Weschler mempertanyakan apakah non intelective, yaitu kemampuan afektif dan konatif, dapat diterima sebagai faktor-faktor umum kecerdasan ? Cherniss berpendapat terdapat faktor-faktor yang tidak hanya dapat diterima tapi penting bahwa agar lebih intelektif terdapat faktor-faktor non-intellective yang menentukan perilaku cerdas. Jika pengamatan ini benar, kita tidak bisa mengharapkan mengukur kecerdasan total sampai pengukuran tersebut menyertakan pengukur an pada faktor-faktor non-intellective (Weschler, 1943).

Weschler bukan satu-satunya ahli yang memandang aspek non-kognitif dari kecerdasan penting untuk adaptasi dan kesuksesan. Robert Thorndike menulis tentang kecerdasan sosial di akhir tahun 1930an. Namun sayangnya, usaha-usaha pendahulu ini dilupakan hingga pada tahun 1983 Edward Gardner mulai menulis tentang "kecerdasan ganda". Gardner mengusulkan bahwa intelegensi intrapersonal dan interpersonal merupakan hal yang penting dalam pengukuran IQ dan tes-tes yang berkaitan.

Tidak ada komentar:

Followers