Arni Mabruria, M.Si.
Dosen Psikologi • Psikologi Pendidikan • Peneliti
Arni Mabruria, M.Si.

Arni Mabruria, M.Si.

Dosen Psikologi & Peneliti Psikologi Pendidikan.

Berbagi kajian psikologi, pendidikan, pengajaran, dan penelitian.

PENGAJARAN

Berikut Kegiatan Belajar Mengajar Universitas Islam Nusantara (UIN) Al-Azhaar Lubuklinggau Seluruh Mata Kuliah dibawah bimbingan Dosen Arni Mabruria, M.Si.
  1. Jadwal Perkulihan
  2. RPS Perkuliahan
  3. Absensi Mahasiswa
  4. Absensi Dosen
  5. Nilai Akhir Mahasiswa

Nilai Akhir Mahasiswa

SEMESTER GANJIL
  1. Tahun 2014-2015 >>> BKPI
  2. Tahun 2015-2016 >>> BKPI & PGMI
  3. Tahun 2016-2017 >>> BKPI 
  4. Tahun 2017-2018 >>> BKPI & SP
  5. Tahun 2018-2019 >>> BKPI
  6. Tahun 2019-2020 >>> BKPI
  7. Tahun 2020-2021 >>> BKPI
  8. Tahun 2021-2022 >>> BKPI
  9. Tahun 2022-2023 >>> BKPI & PAI
  10. Tahun 2023-2024 >>> BKPI & PAI
  11. Tahun 2024-2025 >>> BKPI & PAI
  12. Tahun 2025-2026 >>> BKPI & PAI

SEMESTER GENAP
  1. Tahun 2013-2014 >>> BKPI
  2. Tahun 2014-2015 >>> BKPI
  3. Tahun 2015-2016 >>> BKPI
  4. Tahun 2016-2017 >>> BKPI/PGRA & Remedial
  5. Tahun 2017-2018 >>> BKPI & PIAUD
  6. Tahun 2018-2019 >>> BKPI
  7. Tahun 2019-2020 >>> BKPI
  8. Tahun 2020-2021 >>> BKPI
  9. Tahun 2021-2022 >>> BKPI
  10. Tahun 2022-2023 >>> BKPI & SP
  11. Tahun 2023-2024 >>> BKPI & PAI
  12. Tahun 2024-2025 >>> BKPI & PAI
  13. Tahun 2025-2026 >>> BKPI & PAI

Evaluasi Kualitatif

Paradigma ini mengandung beberapa kata kunci yaitu: 1) fokus pada penelusuran secara inkuiri di tempat alamiahnya; 2) bergantung pada peneliti yang bertindak sebagai instrument penjaring data; 3) laporannya berbentuk narasi bukan angka. 

Evaluasi Kuantitatif

Paradigma kuantitatif, dalam isu ontologis penelitiannya melihat kenyataannya sebagai objek yang berada di luar peneliti. Sehingga hasil pengumpulan informasinya diarahkan kepada nilai objektifitas dan independensi. Peneliti selalu akan berusaha untuk menghindari pengaruh-pengaruh variable intervening yang diperkirakan akan mempengaruhi interaksi antar variable yang diteliti. Sampel yang diteliti juga dipertimbangkan lebih dahulu dari segi karakteristiknya sehingga sample tersebut dianggap dapat mewakili populasinya.

Evaluasi Program

Evaluasi program bertujuan untuk melihat apakah program dirancang, dilaksanakan, dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam program. Pada pelaksanaannya evaluasi program bermaksud mencari informasi sebanyak mungkin untuk mendapatkan gambaran rancangan dan pelaksanaan program. Hasil Evaluasi tersebut akan digunakan bagi pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan. 

Jurnal Penelitian

  1. Atsaru tadritil khof Araby fiqudrati ala imlak laday talamiz shoffi tsami min madrusal darul muttaqin al-islamiyah Parung Bogor (Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010)  >>> LIHAT
  2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dan Temperamen Anak terhadap Kecerdasan Emosi Anak Usia Sekolah (Tesis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Juni 2013)  >>> LIHAT 
  3. Konsep Diagnosis Kesulitan Belajar dalam proses pembelajaran (Jurnal Muhafadzah Vol.1 No.2, Mei 2021) >>> LIHAT
  4. Peningkatan Kemampuan Sosial Emsional Anak Usia Dini (AUD) Melalui Metode Bercerita (Jurnal Sinta 4, PG PAUD Trunojoyo Madura Vol.9 No.1 April 2022) >>> LIHAT
  5. Cara Mengatasi Permaslahan Pemilihan Jurusan Dengan Menggunakan Pendekatan Transaksional (Jurnal Muhafadzah UIN Al Azhaar LLG Vol.2 No.2, Mei 2022) >>> LIHAT
  6. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN I Rantau Panjang Kabupaten Musi Banyuasin (Jurnal Muhafadzah UIN Al Azhaar LLG Vol.4 No.1, Nov 2023) >>> LIHAT

  7. Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PAI Materi Mengenal Rasul-rasul Allah SWT. Melalui Model Pembelajaran Example dan Non Example pada siswa kelas V SDN. 08 Lubuklinggau (Jurnal Al Ulum STAI Rahmaniyah MUBA Vol.6 No.1, Jan 2024) >>> LIHAT
  8. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Sekolah Dasar Usia 10 - 12 Tahun (Jurnal Muhafadzah UIN Al Azhaar LLG Vol.4 No.2, Mei 2024) >>> LIHAT
  9. Problem-Based Learning In Mathematics Education: Analysis Of Teachers’ Challenges And Implementation Solutions (Jurnal Sinta 4, Lentera Sriwijaya: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika UNSRI Palembang Vol.6 No.2 Nov 2024) >>> LIHAT
  10. A Person-Centered Therapy Approach in Counseling for Early Childhood Children Experiencing Separation Anxiety at School (Jurnal Sinta 2, JCD (Journal of Childhood Development Universitas Ma'arif Lampung Vol.5 No.2 Sept 2025) >>> LIHAT
  11. Implementasi manajemen pendidikan inklusif dalam Kurikulum Merdeka untuk ABK di  SMA SLB Negeri Lubuklinggau (Jurnal Tazkirah UIN Al Azhaar LLG Vol.7 No.2, April 2026) >>> LIHAT



















Kepribadian Rasulullah dalam Melayani Istri

Banyak suami yang menuntut istrinya untuk melayani kebutuhan biologisnya kapan pun diperlukan, bahkan menggunakan hadits Rasulullaah yang menyatakan Allah dan Malaikat melaknat istri yang menolak permintaan suami, memang hal tersebut benar dan tepat. Akan tetapi banyak di antara suami yang justru lupa meniru bagaimana cara Rasulullah memperlakukan istri, padahal ini adalah poin penting dalam rumah tangga. Berikut ini merupakan gambaran perilaku Rasulullah dalam melayani istrinya:

1. Sabar Menuruti Permintaan Manja Istri
Saat ini banyak suami yang tidak sabaran terhadap permintaan istri untuk bermanja-manja. Padahal, meskipun sering dirasa menyebalkan, terkadang perempuan merasa dicintai ketika sifat manjanya dituruti. Rasulullah Saw. adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka, sehingga Rasulullah selalu sabar menuruti permintaan sang istri. ‘Â`isyah bercerita tentang hal ini: Sekelompok orang Habasyah masuk masjid dan bermain di dalamnya. Ketika itu Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Wahai Humayrâ`, apakah kamu senang melihat mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau berdiri di pintu rumah. Aku menghampirinya. Kuletakkan daguku di atas pundaknya dan kusandarkan wajahku ke pipinya. Di antara ucapan mereka (orang-orang Habasyah) waktu itu, ‘Abû al-Qâsim (Rasulullah) orang baik.’ Lalu Rasulullah berkata, “Cukup.”
Aku berkata, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Beliau pun berdiri lagi untukku. Kemudian beliau berkata lagi, “Cukup.” Aku berkata, “Jangan tergesa-gesa, ya Rasulullah.” Bukan melihat mereka bermain yang aku suka, melainkan aku ingin para perempuan tahu kedudukan Rasulullah bagiku dan kedudukanku dari beliau.” (Ahmad bin Syu’aib al-Nasâ`î, Sunan al-Nasâ`î al-Kubrâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Imiyah, cet. I, 1991, Jilid 5, hal. 307, hadits no. 8951)

2. Menenangkan Perasaan Istri
Suami zaman sekarang banyak yang tidak mengerti bagaimana menenangkan perasaan istri. Istri menangis, malah dihardik. Lihatlah bagaimana cara Rasulullah mendamaikan hati istrinya di kala bersedih.
Pada suatu hari, beliau mendatangi Shafiyah binti Huyay. Beliau menemukan Shafiyah sedang menangis.
Kepadanya beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
Shafiyah menjawab, “Hafshah berkata bahwa aku anak orang Yahudi.”
Beliau berkata, “Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Hârûn, dan pamanku Mûsâ!” (Baca antara lain Muhammad bin Ahmad al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, Kairo: Dâr al-Sya’b, cet. II, 1372 H, 16, hal. 326.)
Terlihat bagaimana Rasulullah menyelesaikan masalah dengan kata-kata sederhana namun mengandung makna yang dalam. Rasakan juga efek psikis istri yang dibela perasaannya, tentu membuat rasa kasih sayang kepada suami semakin dalam.

3. Selalu Siaga Membantu Para Istri
Pada saat banyak suami yang enggan sekadar membantu istrinya karena dianggap dapat menurunkan reputasi dan harga diri, Rasulullah Saw. Justru tidak pernah terlambat membantu para istrinya.
‘Â`isyah pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi Saw. di rumahnya? Ia menjawab, “Beliau selalu melayani (membantu) istrinya.”

4. Bermusyawarah Sebelum Mengambil Keputusan
 Di kala banyak suami memandang istrinya kurang akal dan agama, Rasulullah yang mulia tidak pernah segan atau merasa keberatan mendengar serta mengambil pendapat istrinya. Ini terlihat ketika beliau meminta pendapat Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaybiyah.
Waktu itu beliau memerintahkan para sahabat untuk mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban, namun mereka tidak mau melakukannya.
Melihat respon para sahabat tersebut, Baginda Nabi masuk ke tenda Ummu Salamah. Begitu beliau menceritakan kepada Ummu Salamah apa yang beliau terima dari para sahabat, Ummu Salamah langsung mengajukan pendapat yang cerdas.
Ia berkata: “Keluarlah, ya Rasulullah, kemudian engkau bercukur lalu potong hewan kurban!” Beliau pun keluar dari tenda, bercukur lalu memotong kurban. Melihat hal itu, sontak para sahabat bangkit; mereka serempak bercukur lalu memotong hewan kurban.

5. Tetap Santun Meski Saat Marah
Di kala tidak sedikit para suami yang ringan tangan kepada para istri saat mereka melakukan kesalahan, kita mendapati Sang Nabi tetap bijak, lembut, dan santun dalam memperlakukan para istrinya saat terjadi silang-pendapat atau perselisihan antara beliau dan mereka. Ketika kemarahan beliau agak tinggi, maka pergi menjauhi istri untuk sementara waktu menjadi pilihannya. Tidak pernah beliau menampar satu pun dari istrinya.
Bahkan ketika Rasulullah berniat mencerai salah satu istrinya, kita mendapati beliau tetap santun, lembut dan penuh kasih. Sawdah binti Zam’ah yang sudah tua, tidak cantik, dan berbadan gemuk, merasa bahwa jatahnya dari hati Rasulullah hanya rasa kasihan, bukan cinta. Rasulullah pun kemudian berpikir untuk menceraikan Sawdah secara baik-baik guna membebaskannya dari keadaan yang dianggap membebaninya dan memberatkan hatinya. Dengan sabar Rasulullah menunggu sikap dan jawaban Sawdah atas niat beliau untuk menceraikannya.
Kesantunan, kesabaran dan keterkendalian diri Nabi saw. tetap terpelihara, bahkan ketika ujian terberat menerpa dan mengguncang rumah tangga beliau, saat terjadi apa yang disebut hâdits al-ifk (berita dusta), yakni tuduhan yang menyudutkan istri Rasulullah melakukan ‘selingkuh’ (Aisyah dengan Shafwan)
Sikap Nabi kala itu sungguh merupakan teladan bagi setiap Muslim. Ketika hâdits al-ifk ini tersebar, dengan kelembutannya yang khas dan tidak pernah luntur, Rasulullah berbicara kepada ‘Â`isyah:
“Amma ba’d. Wahai ‘Â`isyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku tentangmu begini dan begitu. Jika kamu bebas (tidak melakukannya), maka Allah akan membebaskanmu, dan jika kamu pernah melakukan dosa maka mohonlah ampun kepada Allah dan tobatlah kepada-Nya.”
Sampai akhirnya Allah menurunkan kabar melalui surahAn Nuur ayat 11, yang membuat tenang dan gembira hati Nabi, ‘Âisyah dan kaum Muslim semuanya.
Bagaimana mungkin Allah tidak melaknat perempuan yang menolak melayani suami yang memiliki sikap dan karakter luar biasa seperti ini? Ayo para suami, perlakukan istri sebagaimana Rasulullah memperlakukan dan melayani istrinya. Semoga Allah memberi keberkahan pada rumah tangga para mukminin.

Aspek-aspek dan Dimensi Pola Asuh

Aspek-aspek Pola Asuh 

Menurut Baumrind (Berk, 1994) membedakan pola asuh menjadi : 
a. Authoritarian
Orang tua berlaku sangat ketat dan mengontrol anak dengan mengajarkan standar dan tingkah laku. Pola asuh ini mengakibatkan kurangnya hubungan yang hangat dan komunikatif dalam keluarga. Anak dari pola asuh ini cenderung moody, murung, ketakutan, sedih, menggambarkan kecemasan dan rasa tidak aman dalam berhubungan dengan lingkungannya, menunjukkan kecenderungan bertindak keras saat tertekan dan memiliki harga diri yang rendah.

ASI Berkualitas

Memberikan anak ASI eksklusif dan menyusui memberikan banyak manfaat bagi ibu dan anak, baik secara psikologis maupun secara fisik. Selain mempererat hubungan antara ibu dan anak. ASI juga memberikan manfaat tak ternilai bagi anak sebagai berikut:

Instrument Temperamen

Sekilas gambaran mengenai beberapa alat ukur baku yang digunakan untuk mengukur temperamen anak. Penjelasannya sengaja tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, agar maknanya tidak berubah.

Model Kecerdasan Emosi

Konstruk teori kecerdasan emosi terbagi dalam tiga model (www.en.wikipedia.org; Banchard dan Hakstian, 2004; Goldenberg, Matheson, dan Matler, 2006; Livingstone, Foster, dan Smither, 2002; Pike, Hills dan MacLennan, 2002), diantaranya:

Aspek-aspek Kecerdasan Emosi Menurut Petrides & Furnham

Menurut Petrides & Furnham (2001) anak yang memiliki kecerdasan emosi tinggi cenderung berperilaku prososial dan antisosial, diantaranya:

Defenisi Pola Asuh

Keluarga merupakan pembentuk kepribadian yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan anak, hal ini disebabkan karena orang tua mempunyai pola asuh untuk anak-anaknya guna merawat, mengajarkan cara berinteraksi dan bersosialisasi, mengajarkan bagaimana bertingkah laku yang dapat diterima dalam norma masyarakat. 

Peran Parents Emotion Coaching dan Temperamen Anak dengan Kecerdasan Emosi Anak Usia Sekolah Dasar

Menurut Papalia, Olds & Feldman (2007) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia 6-11 tahun sedangkan menurut Gottman & DeClaire (1997) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia 8-12 tahun. Selama periode masa kanak-kanak tengah (usia SD) anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih luas dan memahami pengaruh sosial. Pada saat bersamaan, anak-anak mulai tumbuh secara kognitif dan mampu mengenali emosi mereka sendiri.

Klasifikasi Temperamen

Klasifikasi temperamen yang dikemukakan oleh Alexander Chess dan Stella Thomas (Chess & Thomas, 1977; Thomas & Chess, 1991).
=================================================================

Defenisi Temperamen

Temperamen didefenisikan sebagai karakteristik seseorang, cara mendasar biologis untuk mendekati atau bereaksi terhadap orang dan situasi. Seorang anak tidak melakukan tindakan yang sama untuk semua situasi. Temperamen bukan saja cara anak mendekati dan bereaksi terhadap dunia luar tetapi juga cara mereka meregulasi fungsi mental dan emosional. Temperamen memiliki basic emosional akan tetapi ketika emosi seperti rasa takut, gembira, dan bosan datang dan pergi temperamen cenderung konsisten berkesinambungan.

Hubungan Parents Emotion Coaching dengan Kecerdasan Emosi

Menurut Gottman & DeClaire (1997) emotion coaching merupakan suatu proses dimana orang tua dengan aktif mendengarkan ungkapan perasaan anaknya, menerima perasaan anaknya serta memberikan bimbingan, batasan perilaku, dan membantu anak menyelesaikan permasalahannya agar anak dapat belajar bagaimana mengendalikan perasaan atau emosi yang dirasakannya dengan cara yang benar.

Langkah-langkah dalam Emotion Coaching

Gottman & DeClaire (1997) mengemukakan lima langkah dalam emotion coaching yang umumnya digunakan oleh orang tua untuk meningkatkan kecerdasan emosi anak yaitu: (1) Menyadari emosi diri sendiri dan anak (Awareness). Agar orang tua dapat merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak mereka maka terlebih dahulu orang tua harus dapat menyadari emosi dalam diri mereka sendiri dan kemudian menyadari emosi dalam diri anak-anak mereka.

Definisi Emotion Coaching

Menurut Gottman & DeClaire (1997) emotion coaching merupakan suatu proses dimana orang tua dengan aktif mendengarkan ungkapan dan menerima perasaan anaknya serta memberikan bimbingan, batasan perilaku, dan membantu anak menyelesaikan permasalahannya agar anak dapat belajar bagaimana mengendalikan perasaan atau emosi yang dirasakannya dengan cara yang benar.

Perkembangan Emosi Anak Pada Usia Sekolah Dasar

Menurut Papalia, Olds & Feldman (2007) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia 6-11 tahun sedangkan menurut Gottman & DeClaire (1997) masa kanak-kanak tengah dimulai dari usia 8-12 tahun. Selama periode masa kanak-kanak tengah (Usia SD) anak-anak mulai berhubungan dengan suatu kelompok sosial yang lebih luas dan memahami pengaruh sosial. Pada saat bersamaan, anak-anak mulai tumbuh secara kognitif dan mampu mengenali emosi mereka sendiri (Gottman & DeClaire, 1997).

Artikel Populer

Followers