RUANG AKADEMIK
Psikologi Pendidikan I Arni Mabruria
Arni Mabruria, M.Si.

Arni Mabruria, M.Si.

Dosen Psikologi & Peneliti Psikologi Pendidikan.

Berbagi kajian psikologi, pendidikan, pengajaran, dan penelitian.

Etika Pendidikan Agama Islam

Etika dan Adab dalam Pendidikan Islam
Pendidikan Agama Islam

Etika dan Adab dalam Pendidikan Islam

Memahami pengertian etika, nilai-nilai etika Islam, kode etik guru, serta adab peserta didik dalam lingkungan pendidikan.

A. PENGERTIAN ETIKA

Etika secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Istilah ini identik dengan moral yang berasal dari kata “Mos”, dengan bentuk jamak “Mores”, yang berarti adat atau cara hidup (Zubair, 1987:13).

Menurut Abuddin (2000: 88–89), beberapa ahli memberikan pengertian mengenai etika sebagai berikut:

1. Ahmad Amin Etika merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka, serta menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.
2. Soegarda Poerbakawatja Etika merupakan filsafat nilai dan kesusilaan tentang baik dan buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan merupakan pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.
3. Ki Hajar Dewantara Etika merupakan ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat menjadi pertimbangan dan perasaan sampai pada tujuan yang dapat diwujudkan dalam perbuatan.

B. ETIKA MENURUT AJARAN ISLAM

Istilah etika dalam ajaran Islam tidak sama dengan apa yang diartikan oleh para ilmuwan Barat. Bila etika Barat bersifat “antroposentrik” atau berkisar sekitar manusia, maka etika Islam bersifat “teosentrik” atau berkisar sekitar Tuhan.

Dalam etika Islam, suatu perbuatan selalu dihubungkan dengan amal saleh atau dosa, pahala atau siksa, serta surga atau neraka (Musnamar, 1986: 88).

Dipandang dari segi ajaran yang mendasarinya, etika Islam tergolong sebagai etika teologis.

Menurut Dr. H. Hamzah Ya’qub, pengertian etika teologis adalah bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Tuhan. Segala perbuatan yang diperintahkan Tuhan itulah yang baik dan segala perbuatan yang dilarang Tuhan itulah perbuatan yang buruk (Ya’qub, 1985: 96).

Karakter khusus etika Islam sebagian besar bergantung kepada konsepnya mengenai manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan alam, dan dengan masyarakat (Naquib, 1993: 83).

C. BUTIR-BUTIR ETIKA ISLAM

Butir-butir etika Islam yang dapat diidentifikasikan, antara lain:

  1. Tuhan merupakan sumber hukum dan sumber moral. Kedua hal tersebut disampaikan berupa wahyu melalui para Nabi dan para Rasul, kemudian dikodifikasikan ke dalam kitab-kitab suci Allah.
  2. Suatu perbuatan adalah baik apabila sesuai dengan perintah Allah serta didasari atas niat yang baik.
  3. Kebaikan adalah keindahan akhlak, sedangkan tanda-tanda dosa adalah perasaan tidak enak serta merasa tidak senang apabila perbuatannya diketahui oleh orang banyak.
  4. Perikemanusiaan hendaknya berlaku bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, bahkan dalam perang.
  5. Anak wajib berbakti kepada orang tuanya (Musnamar, 1986: 89–93).

D. HUBUNGAN ETIKA / ADAB DALAM PENDIDIKAN

Semua jabatan dalam masyarakat mempunyai kode etik, demikian juga seharusnya dalam jabatan guru (Roestiyah, 1989: 35).

Kode etik guru diartikan sebagai aturan tata susila keguruan. Maksudnya adalah aturan-aturan tentang keguruan yang menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru apabila dilihat dari segi susila.

Menurut Westby Gibson, kode etik guru merupakan suatu statement formal yang menjadi norma atau aturan tata susila dalam mengatur tingkah laku guru.

Sehubungan dengan itu, kode etik guru merupakan semacam penangkal terhadap kecenderungan manusiawi seorang guru yang ingin menyeleweng agar tidak melakukan perbuatan tersebut (Sudirman, 2001: 149–150).

Tingkah laku atau moral guru pada umumnya merupakan penampilan lain dari kepribadiannya. Bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya.

Guru adalah orang pertama sesudah orang tua yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik. Cara guru berpakaian, berbicara, berjalan, dan bergaul juga merupakan penampilan kepribadian yang mempunyai pengaruh terhadap anak didik (Daradjat, 1980: 18, 20).

E. TATA CARA WAJIB DIAMALKAN OLEH SEORANG GURU DALAM JABATANNYA

1. Hubungan Guru dengan Murid

  1. Guru selaku pendidik hendaknya selalu menjadikan dirinya sebagai suri teladan bagi anak didiknya.
  2. Di dalam melakukan tugas harus dijiwai dengan kasih sayang, adil, serta melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
  3. Guru seyogianya tidak memberikan pelajaran tambahan kepada muridnya sendiri dengan memungut bayaran.

2. Hubungan Guru dengan Sesama Guru

  1. Di dalam pergaulan sesama guru hendaknya bersifat terus terang, jujur, dan sederajat.
  2. Di dalam menunaikan tugas dan memecahkan persoalan bersama hendaknya saling tolong-menolong dan penuh toleransi.
  3. Guru hendaknya mencegah pembicaraan yang bersifat sensitif yang berhubungan dengan sesama guru.

3. Hubungan Guru dengan Atasan

  1. Guru wajib melaksanakan perintah dan kebijaksanaan atasannya.
  2. Setiap saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui prosedur dan forum yang semestinya.
  3. Jalinan hubungan antara guru dan atasan hendaknya selalu diarahkan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.

4. Hubungan Guru dengan Orang Tua / Wali

  1. Guru hendaknya selalu mengadakan hubungan timbal balik dengan orang tua atau wali anak dalam rangka kerja sama untuk memecahkan persoalan-persoalan di sekolah maupun persoalan pribadi anak.
  2. Segala kesalahpahaman yang terjadi antara guru dan orang tua atau wali anak hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat.

5. Hubungan Guru dengan Masyarakat

  1. Guru hendaknya selalu beradaptasi terhadap lembaga serta organisasi-organisasi di dalam masyarakat yang berhubungan dengan usaha pendidikan, sebab pada hakikatnya pendidikan merupakan tugas pembangunan dan kemanusiaan.
  2. Guru hendaknya melayani dan membantu memecahkan masalah-masalah yang timbul di dalam masyarakat sesuai dengan fungsi dan kemampuannya (Team Didaktik, 1993: 18–20).

F. ETIKA / ADAB DALAM BERGAUL ANAK DIDIK

1. Adab terhadap Guru

Guru adalah orang yang telah memberikan ilmu atau pelajaran kepada murid. Oleh karena itu, menjadi tugas murid untuk memuliakan guru dengan cara, antara lain (Daradjat, 1995: 274):

  1. Mengucapkan salam terlebih dahulu apabila bertemu dengan guru.
  2. Senantiasa patuh dan hormat kepada perintah guru sepanjang tidak melanggar ajaran agama dan undang-undang negara. Menghormati guru termasuk dalam menghormati ilmu, sebab guru merupakan perantara atau washilah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (Mahali, 1989: 50).
  3. Menunjukkan perhatian ketika guru memberikan pelajaran dan bertanya dengan sopan sesuai dengan keperluannya.
  4. Tidak berjalan di depan guru atau berjalan mendahului guru kecuali dengan izinnya.

2. Adab terhadap Sesama Murid

Khususnya dalam pergaulan antara murid pria dan wanita, diperlukan sikap yang dapat menjaga kehidupan belajar agar pergaulan tidak menimbulkan hal-hal yang dapat mengganggu proses pendidikan dan kehidupan mereka kelak.

Menjadi tugas murid untuk:

  1. Senantiasa menjaga jarak, baik dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti kiasan, sehingga hubungan berlangsung sesuai dengan kepentingan dan seperlunya.
  2. Memelihara diri dari ucapan dan tingkah laku agar terhindar dari pikiran dan perbuatan maksiat.
  3. Secara bersama-sama senantiasa berusaha membina pergaulan dengan norma-norma agama dalam berbagai kegiatan belajar, baik di dalam maupun di luar sekolah atau kelas (Daradjat, 1995: 274–275).

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian atau teori-teori para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia dan merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk.

Penilaian baik dan buruk tersebut berdasarkan pendapat akal pikiran. Dengan demikian, etika merupakan cabang ilmu filsafat.

Jika makna etika dihubungkan dengan Pendidikan Agama Islam, maka etika Pendidikan Agama Islam merupakan etika yang lebih mengarah atau mengacu kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan, dan memasyarakatkan kehidupan yang sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang dipandang baik dalam lingkungan masyarakat.

Dalam dunia pendidikan terdapat kode etik guru. Kode etik guru diartikan sebagai aturan tata susila keguruan, yaitu aturan-aturan mengenai keguruan yang menyangkut pekerjaan guru apabila dilihat dari segi susila.

Dengan demikian, kode etik guru merupakan norma formal dalam mengatur tingkah laku guru. Hal ini penting karena guru merupakan suri teladan bagi siswa atau peserta didiknya.

Tingkah laku atau moral guru pada umumnya merupakan penampilan lain dari kepribadiannya. Bagi anak didik yang masih kecil, guru merupakan contoh teladan yang sangat penting dalam pertumbuhannya.

Guru adalah salah satu orang yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik setelah orang tua. Cara guru berpakaian, berbicara, berjalan, dan bergaul juga merupakan penampilan kepribadian yang mempunyai pengaruh terhadap anak didik.

Etika dan Adab dalam Pendidikan Islam

— kali dilihat

Tidak ada komentar:

Artikel Populer

Followers